Monday, August 13, 2012

Ada setangkup haru dalam rindu (Yogyakarta)

Tugu Jogja

Jogjaaa.. Apa yang ada di benak kalian saat mendengar kota itu?
Saat saya mendengar nama kota itu, saya langsung membayangkan kota yang nyaman, adem, asri, dan kebudayaan Jawa yang kental. Saat mendengar nama kota itu juga saya teringat sebuah film yang dibintangi Nicholas Saputra & Adinia Wirasti. Tau ga apa filmnya? Ya, 3 Hari Untuk Selamanya… Film sederhana yang sangat menginspirasi, film ini film favorit saya dan tercatat sudah 7 kali menonton film ini (banyak amat). Sebuah film dengan cerita dua anak muda yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogja menggunakan mobil. Selebihnya nonton aja sendiri. Mari lanjut ke cerita perjalanan…
Setelah dari Malang, saya dan Bocan melanjutkan petualangan kami ke Jogja. Sampai Stasiun Lempuyangan sekitar pukul 1 dini hari, alhasil kami menunggu fajar menjelang dengan tidur di stasiun. Pagi tiba mentari cerah menyapa, saatnya kami beranjak dari stasiun mencari penginapan terlebih dahulu, sebelumnya saya menghubungi seorang teman lama yang masih kuliah di Jogja dengan maksud menumpang di kosannya (namanya juga backpack, meminimalisir budget), tapi karena sedang libur kuliah dia berada di Jakarta. Akhirnya kami mendapat penginapan yang cukup nyaman dengan harga Rp100.000/hari di Jalan Sosrowijayan (tempatnya penginapan murah buat para backpacker). Setelah menyimpan barang-barang yang kami bawa, kami bergegas untuk jalan-jalan di Malioboro. Bukan kali pertamanya kami ke Malioboro, tapi memang suasana Jogja yang membuat kota ini harus dikunjungi berkali-kali. Pertama kali saya ke Jogja itu di tahun 2005, ada seorang sahabat yang masih kuliah (Abang Kencana) pada kala itu menemani jalan-jalan di Jogja. Di Malioboro kami melihat-lihat dan sesekali membeli barang-barang yang menarik, kami masuk ke sebuah toko modern dengan gaya khas Jawa yaitu Minorta. Sungguh menarik masuk ke dalam toko ini, barang-barang yang dijual dan juga desain dalam tokonya yang tentunya khas Jawa. Pertama kali masuk ada sebuah patung bapak-bapak duduk dan ada tulisan menarik, “Jogja The Living Culture”. Ada juga seorang ibu-ibu sedang membatik, pertama kalinya saya melihat orang membatik, ternyata membatik itu sulit dan membutuhkan ketelitian. Lalu kami berkeliling melihat-lihat pernak-pernik menarik dan membelinya untuk oleh-oleh.
Setelah selesai melihat pernak-pernik kami menyewa motor seharga Rp50.000/hari, kami bergegas untuk ke Borobudur lalu ke Sendangsono. Borobudur salah satu warisan budaya yang berada di Magelang, Jawa Tengah ga begitu jauh jaraknya dari Jogja. Katanya kalau datang saat pagi atau sore, kita akan disuguhkan pemandangan mentari terbit atau tenggelam. Menikmati pemandangan indah yang kami lakukan di Borobudur sambil melihat-lihat peninggalan sejarah. Dalam benak saya selalu bertanya manusia macam apa yang mampu membangun candi sebesar dan serapih ini. Dalam sebuah film dokumenter History Channel ‘Ancient Aliens’ disana menjelaskan kemungkinan bangunan di bumi ini yang berbentuk piramida itu adalah buatan alien yang turun ke bumi, contohnya Piramida di Mesir, Borobudur di indonesia yang berbentuk mengerucut ke atas. Ya mungkin saja, itulah misteri dari dunia ini yang belum terungkap. Sama halnya seperti buku ‘Atlantis The Lost Continents Finally Found’ yang pernah saya baca sekilas, seorang ilmuwan asal Brazil (Prof. Arysio Nunes Dos Santos) menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah Indonesia. Dan masih banyak misteri dunia ini yang belum bisa terpecahkan oleh manusia.
Kembali lagi ke cerita perjalanannya, setelah dari Borobudur kami ke Sendangsono sebuah tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Desa Banjaroyo, Jogja. Banyak orang yang berkunjung ke tempat ini untuk berziarah ataupun berwisata, selain itu mereka mengambil air dari sumber yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Kata Sendangsono itu berasal dari kata Sendang yang berarti mata air yang muncul di antara dua pohon sono. Tempat yang sunyi, sejuk dan nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak dengan arsitektur yang menarik. Beberapa rohaniawan Buddha juga sering memanfaatkan tempat ini dalam rangka mensucikan dan menyepikan diri. Saya berdoa sejenak di tempat ini didepan patung Bunda Maria, dan mengambil air suci dari sumber mata air. Hari sudah sore dan saatnya kami beranjak pulang.
Malam itu turun hujan, jadi kami ga sempat berputar-putar Jogja malam hari. Alhasil malam itu kami istirahat mempersiapkan perjalanan pulang besok ke Bandung. Esok hari kami membeli tiket kereta Pasundan ke Bandung dengan keberangkatan pukul 12.16 WIB.
Berikut ini lirik sebuah lagu dari KLA Project, lagu sepanjang masa yang selalu ngingetin kita sama kota itu.

KLA Project - Yogyakarta
Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati
Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…
 
 
 



  
 






























No comments:

Post a Comment