Suatu hari temen gw berinisial PNA dapet bbm dari temennya, temennya itu melontarkan sebuah pertanyaan yg sangat mengganggu seketika..
Pertanyaannya, "Bahagia & Bahaya itu beda tipis ketika apa?"
Saat itu otak gw langsung mikir dan seketika gw jawab, "saat lo ga bisa bedain hitam & putih". Kenapa? Karena menurut gw ketika lo ga bisa bedain hitam & putih saat itu juga bisa jadi lo terlibat didalam bahagia & bahaya.
Gw kasih salah satu ilustrasi, ketika seorang pemakai 'etep' lagi enak ngompa mungkin aja itu kebahagian yang paling bahagia menurut dia saat itu. But the other side, you see him on the dangerous, rite? Bahayanya mungkin aja dia mati seketika atau ketangkep polisi pas lagi ngompa.
Mungkin aja lo sekarang lagi bahagia dalam bahaya atau bahaya dalam bahagia. Nahhh kembali lagi menurut gw kalo lo bisa bedain hitam atau putih, saat itu lo akan menikmati bahagia tanpa bahaya.
Maybe it's all about your perspective. Lo liat dari sisi bahagia atau dari sisi bahaya. Seorang temen berinisial AP bilang "ketika lo ngelakuin extreme sports, bahagia pecah bgt andrenalienya tapi deket sama bahaya". Nahhh gw setuju juga ama statement ini. Orang ngeliat itu bahaya, tapi lo ngeliat dari perspektif yang beda kalo itu mendatangkan kebahagiaan buat lo.
Silahkan mengingat lagi kapan saat lo merasakan Bahagia & Bahaya itu beda tipis atau bersinggungan.........
Tuesday, October 16, 2012
Monday, August 20, 2012
Sekilas cerita tentang 'Perahu Kertas'
Kisah ini dimulai dengan Keenan (Adipati Dolken),
seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal
di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat
kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi
perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan
kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung,
di Fakultas Ekonomi.
Di sisi lain, ada Kugy (Maudy Ayunda), cewek
unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang
sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya
koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng.
Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar
bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah
diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas
meneruskan studinya di Fakultas Sastra.
Kugy dan Keenan dipertemukan
lewat pasangan Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully R). Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni
adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah
dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka
berempat akhirnya bersahabat karib.
Lambat laun, Kugy dan Keenan,
yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi.
Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling
jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy
sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua (Dion Wiyoko), alias Ojos
(panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara
Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator
muda bernama Wanda (Kimberly Ryder).
Persahabatan empat sekawan itu
mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan
baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit.
Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik
dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng
tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal
Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu
hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada
Keenan.
Kedekatan Keenan dengan Wanda
yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang
mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam
semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di
Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal
di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan (Tyo Pakusadewo).
Masa-masa bersama keluarga Pak
Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai
mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh
dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi (Elyzia Mulachela), keponakan Pak Wayan. Keenan
mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan
Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan
serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.
Kugy, yang juga sangat
kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata
ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di
sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu
dengan Remigius (Reza Rahadian), atasannya sekaligus sahabat abangnya, Karel (Ben Kasyafani). Kugy meniti
karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba
spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor
itu.
Namun Remi melihat sesuatu yang
lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat
dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya
Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan
Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy.
Sayangnya, Keenan tidak bisa
selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang
memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan
keluarganya karena tidak punya pilihan lain.
Pertemuan antara Kugy dan Keenan
tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya
dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah
cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan
kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah
dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas
yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu
bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu,
tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Diwarnai pergelutan idealisme,
persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah
kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.
Sumber Sinopsis
Gw belum baca novelnya, tapi novel-novel Dewi "Dee" Lestari selalu ramai diperbincangkan. Dengan gaya bahasa & cerita yg menarik. 10 menit pertama gw terpukau sama gambar yg ditampilkan, ya memang Hanung Bramantyo sukses memvisualisasikan keindahan di film ini. Mengeksekusi novel adaptasi bukan sesuatu yg baru buatnya, jadi wajar aja film-filmnya bisa dikatakan box office-nya Indonesia. Property Art-nya menarik, mulai dari sakola alit yg dihiasi kerajinan tangan, sampai kamar kugy yg penuh poster-poster & burung-burung hasil lipatan kertas.
Kembali ke perbandingan novel sama filmnya. Setelah ngobrol dengan seorang teman yg udah baca novelnya, mungkin klo dikonversi ke dalam film, novel ini akan berdurasi 6 jam. Terbukti film Perahu Kertas ini berdurasi 4,5 jam dan pada akhirnya dibagi menjadi 2 bagian, yg tentunya banyak adegan-adegan yg disunat.
Filmnya agak mendayu-dayu, dan ga klimaks menurut gw. Selama hampir 2 jam gw nunggu klimaks yg tak kunjung datang. Dan gw sadar film ini diperuntukkan untuk kalangan ABG. Untungnya para pemainnya cukup apik memainkan perannya, apalagi Reza Rahardian yg begitu natural memainkan perannya. Ada satu lagi, Maudy Ayunda yg notabene berumur 17 tahun terlalu muda untuk memerankan seorang Kugy, apalagi ketika dia udah beranjak dewasa, jadi sarjana, terus kerja. Kelihatan kurang mature.
Tak ada gading yg tak Martin, ehhh salah, Tak ada gading yg tak retak. Walaupun ada beberapa kekurangan dari adaptasi novel ke film ini, film ini layak tonton ditengah crowded film Indonesia yg tak bermutu.
Berikut ini beberapa kutipan dari novel 'Perahu Kertas' yg diambil dari blog seorang teman:
Lo tuh bukan cuma lari, lo tuh terbang. Dan lo suka lupa, gue masih di
bumi. Kaki gue masih di tanah. Gimana kita bisa terus jalan kalau tempat
kita berpijak aja beda?
Halaman 147
Seperti matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan bumi dengan sinarnya.
Seperti matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dan senantiasa memandikan bumi dengan sinarnya.
Halaman 184
Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan ngga berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Ngga akan pernah jadi kenyataan.
Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan ngga berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Ngga akan pernah jadi kenyataan.
Halaman 221
Perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Perihnya perpisahan yang dilakukan sendirian.
Halaman 226
Well, siapapun yang cuma modal body doang, ngga bakalan lama. Ini kan zaman inner beauty.
Well, siapapun yang cuma modal body doang, ngga bakalan lama. Ini kan zaman inner beauty.
Halaman 275
Iyalah, segede-gedenya toket, mau dibawa samapai man, sih? Akhirnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala.
Iyalah, segede-gedenya toket, mau dibawa samapai man, sih? Akhirnya kan yang ngaruh tetap faktor kepala.
Halaman 274
Aku yakin, suatu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya ngga banyak, tapi aku ngga peduli. Kugy
Aku yakin, suatu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya ngga banyak, tapi aku ngga peduli. Kugy
Halaman 362
Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.
Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.
Halaman 46
Sumber Kutipan
Monday, August 13, 2012
Ada setangkup haru dalam rindu (Yogyakarta)
Saat saya mendengar nama kota itu, saya langsung
membayangkan kota yang nyaman, adem, asri, dan kebudayaan Jawa yang kental. Saat
mendengar nama kota itu juga saya teringat sebuah film yang dibintangi Nicholas
Saputra & Adinia Wirasti. Tau ga apa filmnya? Ya, 3 Hari Untuk Selamanya…
Film sederhana yang sangat menginspirasi, film ini film favorit saya dan
tercatat sudah 7 kali menonton film ini (banyak amat). Sebuah film dengan cerita
dua anak muda yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Jogja menggunakan
mobil. Selebihnya nonton aja sendiri. Mari lanjut ke cerita perjalanan…
Setelah dari Malang, saya dan Bocan melanjutkan petualangan
kami ke Jogja. Sampai Stasiun Lempuyangan sekitar pukul 1 dini hari, alhasil
kami menunggu fajar menjelang dengan tidur di stasiun. Pagi tiba mentari cerah
menyapa, saatnya kami beranjak dari stasiun mencari penginapan terlebih dahulu,
sebelumnya saya menghubungi seorang teman lama yang masih kuliah di Jogja
dengan maksud menumpang di kosannya (namanya juga backpack, meminimalisir
budget), tapi karena sedang libur kuliah dia berada di Jakarta. Akhirnya kami
mendapat penginapan yang cukup nyaman dengan harga Rp100.000/hari di Jalan
Sosrowijayan (tempatnya penginapan murah buat para backpacker). Setelah
menyimpan barang-barang yang kami bawa, kami bergegas untuk jalan-jalan di
Malioboro. Bukan kali pertamanya kami ke Malioboro, tapi memang suasana Jogja
yang membuat kota ini harus dikunjungi berkali-kali. Pertama kali saya ke Jogja
itu di tahun 2005, ada seorang sahabat yang masih kuliah (Abang Kencana) pada
kala itu menemani jalan-jalan di Jogja. Di Malioboro kami melihat-lihat dan
sesekali membeli barang-barang yang menarik, kami masuk ke sebuah toko modern dengan
gaya khas Jawa yaitu Minorta. Sungguh menarik masuk ke dalam toko ini,
barang-barang yang dijual dan juga desain dalam tokonya yang tentunya khas
Jawa. Pertama kali masuk ada sebuah patung bapak-bapak duduk dan ada tulisan
menarik, “Jogja The Living Culture”. Ada juga seorang ibu-ibu sedang membatik,
pertama kalinya saya melihat orang membatik, ternyata membatik itu sulit dan
membutuhkan ketelitian. Lalu kami berkeliling melihat-lihat pernak-pernik
menarik dan membelinya untuk oleh-oleh.
Setelah selesai melihat pernak-pernik kami menyewa motor
seharga Rp50.000/hari, kami bergegas untuk ke Borobudur lalu ke Sendangsono.
Borobudur salah satu warisan budaya yang berada di Magelang, Jawa Tengah ga begitu
jauh jaraknya dari Jogja. Katanya kalau datang saat pagi atau sore, kita akan
disuguhkan pemandangan mentari terbit atau tenggelam. Menikmati pemandangan
indah yang kami lakukan di Borobudur sambil melihat-lihat peninggalan sejarah.
Dalam benak saya selalu bertanya manusia macam apa yang mampu membangun candi
sebesar dan serapih ini. Dalam sebuah film dokumenter History Channel ‘Ancient
Aliens’ disana menjelaskan kemungkinan bangunan di bumi ini yang berbentuk
piramida itu adalah buatan alien yang turun ke bumi, contohnya Piramida di
Mesir, Borobudur di indonesia yang berbentuk mengerucut ke atas. Ya mungkin
saja, itulah misteri dari dunia ini yang belum terungkap. Sama halnya seperti
buku ‘Atlantis The Lost Continents Finally Found’ yang pernah saya baca
sekilas, seorang ilmuwan asal Brazil (Prof. Arysio Nunes Dos Santos) menyatakan
bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu
adalah Indonesia. Dan masih banyak misteri dunia ini yang belum bisa
terpecahkan oleh manusia.

Kembali lagi ke cerita perjalanannya, setelah dari Borobudur
kami ke Sendangsono sebuah tempat ziarah Goa Maria yang terletak di Desa
Banjaroyo, Jogja. Banyak orang yang berkunjung ke tempat ini untuk berziarah
ataupun berwisata, selain itu mereka mengambil air dari sumber yang dipercaya
dapat menyembuhkan penyakit. Kata Sendangsono itu berasal dari kata Sendang
yang berarti mata air yang muncul di antara dua pohon sono. Tempat yang sunyi,
sejuk dan nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak dengan arsitektur
yang menarik. Beberapa rohaniawan Buddha juga sering memanfaatkan tempat ini
dalam rangka mensucikan dan menyepikan diri. Saya berdoa sejenak di tempat ini
didepan patung Bunda Maria, dan mengambil air suci dari sumber mata air. Hari
sudah sore dan saatnya kami beranjak pulang.
Malam itu turun hujan, jadi kami ga sempat berputar-putar
Jogja malam hari. Alhasil malam itu kami istirahat mempersiapkan perjalanan
pulang besok ke Bandung. Esok hari kami membeli tiket kereta Pasundan ke
Bandung dengan keberangkatan pukul 12.16 WIB.
Berikut ini lirik sebuah lagu dari KLA Project, lagu
sepanjang masa yang selalu ngingetin kita sama kota itu.
KLA Project - Yogyakarta
Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali) Oh…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh… Tak terobati
Musisi jalanan mulai beraksi, oh…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Merintih sendiri, di tengah deru, hey…
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
(untuk s’lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh…
(Walau kini kau t’lah tiada tak kembali)
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Tak kembali…
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi)
Izinkanlah untuk s’lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi…

Sunday, January 1, 2012
Gudbye 2011. Welcome 2012.
Gudbye 2011..
Di twit gw kemaren gw bilang klo 2011 itu taun yg terbaik yg pernah gw punya.
Karena di taun 2011 gw melakukan hal2 yg baru & pencapaian yg menurut gw luar biasa dalam hidup gw.
Pertama, di bulan Januari gw melaksanakan tanggung jawab gw sebagai Komandan Operasional PDM XVI. Dan karena hal itu juga gw memustuskan untuk menunda kelulusan. Gw memutuskan ga wisuda di bulan Februari. Dan gw ga menyesal karena pengalaman yg didapet luar biasa sebagai seorang pemimpin.
Kedua, tgl 5 Mei gw menyelesaikan sidang komprehensif & resmi jadi seorang Sarjana Pertanian. sebenernya sih biasa aja perasaaannya pas nyelesain sidang. Tapi merasa jadi orang bebas & ga nyangka gw bisa ngejalanin itu semua. Apalagi gw wisuda bersama temen2, senyum nyokap sumringah banget ngeliat anak terakhirnya jdi sarjana. Dan ini berarti gw memasuki dunia nyata & harus menentukan nasib masa depan sendiri.
Ketiga, bulan Juni gw jadi pembimbing sebuah ekspedisi pengambilan nomer anggota Mahatva. Perjalanannya memanjat Tebing Sumbing Gunung Kelud yg berlokasi di Kediri. Perjalanan yg menyenangkan bersama Iman, Tedi, dan para Arjuna (Junjun, Gika, Ria, Rere, Revi, Are). Banyak hal yg gw plajari dari perjalanan itu, gw semakin mengerti sebuah pemanjatan big wall.
Keempat, pertama kalinya gw nginjek tanah Baduy bersama Junjun. Kebudayaan lokal yg selalu dijaga oleh rakyatnya. Dari situ gw ngeliat Indonesia itu luar biasa akan bdayaannya.
Kelima, akhirnya mimpi gw untuk diving kesampean. Gw ngambil sertifikasi A1 CMAS-POSSI Scuba Diver di akhir taun dengan pelatih yg luar biasa, mereka dari FDC-IPB. Selama 5 kali pertemuan laithan di kolam & berakhir di Pulau Pramuka selama 3 hari. Sangat berkesan!
Happy New Year 2012.
Semoga di taun ini banyak pengalaman baru & lebih mengesankan.
Friday, November 11, 2011
Sekilas tentang sejarah SKYGERS (Indonesia Rock Climbing School)
SKYGERS Amateur Rock Climbing Group yang berdiri sejak 1977, pada mula perjalanan hidupnya didirikan sebagai wadah aktivitas panjat tebing (untuk gagah-gagahan) di lingkungan mahasiswa Seni Rupa Institut Teknologi Bandung. Kemudian pada tahun 1981, dimulailah era penyebarluasan pemahaman serta pengetahuan panjat tebing kepada umum melalui kursus yang diadakan di kawasan bukit kapur Padalarang (Citatah 125).
Hingga saat ini, SKYGERS telah melahirkan sekitar 1500 alumni sipil dan militer yang tersebar diseluruh Nusantara. Para alumnus tersebut tetap aktif dan eksis dalam pengembangan serta perkembangan dunia panjat tebing Indonesia. Seiring dalam perjalanan waktu, dari sebuah kelompok (Group), pada usia peraknya SKYGERS telah mengalami berbagai macam dinamika kelompok (organisasi tanpa bentuk), mulai dari Gerombolan Pemanjat Tebing, Sekolah Panjat Tebing, Perguruan Memanjat Tebing hingga Yayasan SKYGERS Indonesia, akhir-akhir ini malah sering disebut juga sebagai Sekelompok Jelema Gerings. Hal tersebut wajar saja terjadi, karena sejak awal mula berdirinya, SKYGERS ternyata dibentuk serta berkembang melalui individu-individu yang senang pada aktivitas memanjat tebing dan berkreasi.
Selain banyak mencetak penggiat aktivitas panjat tebing, keseharian para alumnus SKYGERS yang majemuk tanpa terasa telah melahirkan pula berbagai macam jargon sebagai alat publikasi. Jargon-jargon tersebut dilontarkan secara spontan hingga didedikasikan untuk perkembangan dunia panjat tebing di Indonesia. Adapun jargon-jargon yang sempat beredar, bahkan beberapa sempat dibuat dalam bentuk t-shirt oleh para pemanjat tebing Indonesia ialah, Berusaha disisi TUHAN [judul lagu grup band Inpres-band-nya Harry Sulliztiarto (salah seorang pendiri SKYGERS) pada waktu kuliah di Seni Rupa ITB], TUHAN bersama orang berani, Berani adalah baik (terinspirasi falsafah hidup sederhana Ki Ageng Suryo Mataram), Habis-habisan, Going Crazy ( judul buku Going Crazy an Inquiry into Madness in Our Time, Otto Friedrich), Tegak Lurus Dengan Langit (judul cerpen Iwan Simatupang), Menuju Kesembuhan Sejati, Gerombolan Pemanjat Tebing, hingga Tebing, TUHAN & Aku.
Akhir kisah, Sekelompok Jelema Gerings “SKYGERS” ternyata merupakan suatu proses perjalanan hidup individu-individu perkotaan yang bergulat di dalamnya. Proses tersebut akan terus berlanjut hingga tiada lagi individu yang mau serta peduli pada aktivitas memanjat tebing dan berkreasi. Dan jika hal itu terjadi, maka kemandulan bahkan mungkin kematian SKYGERS telah nampak di pelupuk mata.
*Tebing, TUHAN & Aku lahir dari kesadaran ketika kita berhadapan dengan tebing, maka yang ada disana hanyalah TUHAN & Aku. Pada titik ini hilanglah semua kesombongan serta keangkuhan kita sebagai manusia, yang tersisa dan abadi hanyalah Keagungan TUHAN.
Dikutip dari www.skygers.net
Wednesday, August 24, 2011
Jakarta.. I'm Home!
-20 Agustus 2011-
Hari yang dinantikan tiba.. Yaitu hari dimana gw harus memindahkan semua barang gw dari Jatinangor ke Jakarta. Hal ini udeh gw pikirin dari jauh2 hari. Jadi gini critanya..
Seblom bulan Agustus gw udeh beberapa kali berbicara ama temen gw si RPG bahwa gw butuh bantuan mao minjem mobil kolbaknya buat pindahan ke Jakarta, waktu itu sih jawabannya datar. Dia pengennya pas pertengahan lebaran, gw bilang tanggal 8 Agustus gw udeh harus cabut. Karena pada waktu itu disuruh ama Kang Hamzah (yang punya kosan) untuk ngosongin kosan tanggal 8 Agustus soalnya ada yang mao ngisi. Akhirnya klo ga salah dia bilang liat nanti aja. Mmmhh.. Muali dari situ gw ragu dia mao bantu gw. Mulai dari situ gw ilang rasa respect ama dia. Bukan karena dia junior gw, tapi rasa peduli yang kurang dari dia (klo menurut gw). Nah ujungnya suatu hari yang gw lupa kapan, gw sms dia "Jadi bisa bantu ga?". And damn! Jawabannya cuma "Ga". Ya lo yang baca ini mungkin tau gimana rasanya.. Rada kesel sih. Emang ga semua orang mao bantu gw. Tapi ada bahasa yang lebih halus buat nolak dong. Dan gw cukup tau bahwa ada orang kayak gitu. Yaaa gw maklumin aja, karena gw udeh kenal dia cukup lama.
Setelah itu gw minta tolong ke temen gw lagi si PPB buat minjem mobilnya, yahh emang malang nasib gw.. Mobilnya lagi di bengkel. Baru aja dimasukin ke bengkel. Jadi aja ga bisa dipinjemin. Huuuhhh..
Tujuan gw minjem mobil temen sih meminimalisir biaya sih.. Tapi akhirnya gw memutuskan untuk menyewa mobil di tempat rental mobil yang di sebelah pos polisi pertigaan pangdam lama. Ditmenin ama sikukuh skitar jam 12 gw nyewa mobil karimun estillo. Mmmhh.. Sebenernya rada2 males nyetir lagi. Tapi harus dipaksakan. Dan gw nyetir tuh mobil, masih ada perasaan trauma (bukan lebay bukan fiktif). Karena pada bulan Februari gw mengalami tabrakan beruntun di tol cikampek saat membawa mobil rentalan. Huuuuhhh..
Mulai lah kita masukin barang2 ke mobil dari kosan. Bukan cuma barang lho, Sachi Chimo juga gw bawa ke Jakarta. Awalnya pengen minjem kandang kucingnya si PGF, tapi emang dia dasar pelit jadi kaga dikasih dengan berbagai macam alasan. SaChimo pake kardus tipi deh dimasukin ke dlm mobil. Setelah itu ke rumah Manda ngambil barang2 yang seblomnya dititipin di rumah Manda. Pas dkt rumah Manda, ketemu ama Manda nya lagi jalan make baju item. Padahal kan dia katanya lagi magang di Subang. Diklakson ga nengok, akhirnya dipanggil ajah. Ternyata emaknya Adit (temen KKN nya Manda) meninggal jadi dia harus ngelayat. Awalnya dia bilang ke Bandung, kirain emaknya Adit Mahatva yang meninggal. Ehh dia sms mao ke Jakarta, baru sadar ternyata Adit temen KKN nya dia. Manda naek bis sendirian ke Jakarta nya, kasian. hehehe.
Dan gw ama kukuh brangkat ke Jakartaaaa!!
Dengan sangat hati2 gw nyetir sampe rumah dengan selamet. Emang bener pengalaman adalah guru yang paling berharga! Dan kebetulan gw dapet pengalaman yang lumayan pahit! Dari situ gw belajar.. Dan gw tetep harus mengalahkan rasa trauma itu. Itulah Pejuang Sejati.. Asiiikkk.. hahaha.
Dan setelah gw nyampe Jakarta, beberes trus mandi abis itu cabut lagi ke Jatinangor. Jalan tol lancar2 ajah. Ohhiya, kita ngejemput Manda di rumah temennya daerah Cikarang Barat (rumahnya Adit gede banget!!!). Sempet salah rumah. Untung aja kaga ada yang keluar dari tu rumah. Kita nganterin Manda ke rumahnya dulu. Abis itu balikin mobil deh ke tempat rentalan dengan selamet. Dan gw berhasil menaklukan trauma gw! Ada yang ilang nih.. Satu plastik item yang isinya celana pendek item, baju barong bali, sama patung wisuda gw. Sampe skarang gw kaga tau dah ada dimana. Sedih banget dah. Gw lupa bangeeeett. Udeh gw priksa dimanamana tapi kaga ada. Kayaknya ketinggalan di mobil deh. Tapi masa iya sih/ Prasaan gw udeh cek deh. Sedih lah pokonya. Masalahnya tuh patung wisuda penuh pengorbanan dapetinnya. Huuuhhh..
Sampe segitu aje dah hari itu..
-21 Agustus 2011-
Hari itu seperti biasa bangun siang. Dan nganter si Gendutt ke halte buat pulang ke Cirebon. Tapi seblomnya kita beli DVD dulu. Begitu panas Jatinangor. Dan hari itu gw berencana pulang ke Jakarta dengan motor. Karena gw udeh lulus dan semua barang udeh diungsikan. Itu artinya gw udeh kaga ada gawean lagi di nangor. Tadinya sih mao balik ama sikukuh. Katanya mao bareng. Tapi dia bilang sih males, di Jakrta juga lagi kaga ada gawean. Yasudah, akhirnya gw balik sendirian. Awalnya sih gw ragu mao balik apa ngga. Soalnya besoknya, yaitu hari senen ada buka bareng Skygers di rumah mas Harry. Si Giri ama si Iman udeh sms. tapi ga tau kenapa gw memutuskan untuk pulang sajah. Padahal gw masih ragu ampe leuwi panjang, gw jalan pelan banget dari biasanya. Bimbang sebimbang bimbangnya waktu itu. Dan akhirnya gw nyesel kan balik buru2 ke Jakarta. Gw nyesel ga ikut bubar Skygers.
Berat hati gw meninggalkan Jatinangor, desa yang penuh kenangan. Gw kangen suasananya, udaranya, atmosfernya, dinginnya, orang2nya, kampusnya, kosannya.. All about Jatinangor lah!
Ada cerita waktu gw di daerah cikalong wetan klo ga salah. Gw keluar jalur. Ampir aja kayak Pedrosa jatoh keseret. hehehe. Jadi lagi berlikuk-likuk tiba2 jalanannya ga rata2 jadi aja gw ngerem dan ga belok miring, malah lurus. Shocking banget dah pokonya. Huuuffff.. Selebihnya aman terkendali. Motor gw (B 6155UKO) emang tangguh. Tapi bannya koq aga botak ya skarang. Masa udeh mao ganti ban lagi ajah.
Perjalanan yang melelahkan. Dan waktunya istirahat. Pantat pegel bangettt!
Nahhh.. Segitu aje dah crite aye malem ni.. aye pilek.. Meler mulu ni malem.. Mao istirahat dulu.. Hehe
Saturday, July 23, 2011
Perdanaaaaaaaa!!!
Blog gw lahir!!
ini postingan pertama gw.
setelah melihat-lihat, membaca-baca, mencerna-cerna, memilih-milih tentang blogger ato tumblr, ya akhirnya gw pilih ke2 nya. karna punya kelebihan masing2..
knp harus dua2nya, karena punya kebutuhan yang beda. *lah? sok penting banget yeee..
au ahh elap! pokonya sekarang gw punya ke2 nya.
kenapa gw hrs punya blog, karena setelah gw pikir2 momen2 idup kita yg penting ga slamanya kita inget. jadi diabadikan melalui tulisan. nantinya pas kita baca2 lagi, kita akan ke kembali ke memori itu. yahh klo jaman dulu sih diary ato catatan harian, kayak 'si boy' yang punya catatan harian.
klo sekarang sih dunia udah berkembang. sgalanya berkembang. manusia makin kreatip, apa aja dikembangin dan mulai memberikan kemudahan buat manusia.
Lah? koq jadi ngelantur kemanamana.
pokoknya blog gw lahirrrrr!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)




















